Press "Enter" to skip to content

Sekretaris Dishub Bursel Divonis 5 Tahun Penjara

Telah Dibaca : 4218 Kali

PENGADILAN Negeri (PN) Ambon menjatuhkan hu­ku­man pidana penjara ke­pada Sekretaris Dinas Per­hu­bungan Kabupaten Bu­ru Selatan (Bursel), Samuel Tehusiarana alias Samy selama lima tahun dan membayar denda sebesar Rp 50 juta subsider tiga bulan kurungan. Sebab, perbuatan terdakwa Samy terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana persetubuhan terhadap gadis yang masih dibawah umur (13).

“Menyatakan, perbuatan terdakwa Samuel Tehusiarana alias Samy terbukti bersalah melanggar Pasal 81 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak,” ucap Ketua Majelis Hakim Felix Wuisan, didampingi dua hakim anggota Lucky R Kalalo dan Herry Setiabudi, saat membacakan amar putusannya di PN Ambon, Rabu, 18 April 2018.

Terhadap putusan tersebut, pihak Jaksa Pe­nuntut Umum (JPU) maupun terdakwa melalui Penasehat Hukumnya, Marnex F. Salmon, sama-sama menyatakan pikir-pikir untuk melakukan upaya hukum banding.

Hukuman yang dijatuhi majelis hakim itu lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Lilia Heluth, yang sebelumnya menuntut terdakwa dengan hukuman pidana penjara selama tujuh tahun dan membayar denda sebesar Rp 60 juta subsider tiga bulan kurungan.

Saksi korban dalam persidangan mengung­kapkan, pencabulan disertai pemerkosaan itu pertama kali terjadi di rumah terdakwa, tepatnya di dalam kamar terdakwa di Perumtel Benteng Atas (Bentas), RT 007, RW 003, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, pada tahun 2013 siang hari.

Saat itu, saksi korban yang masih berumur 10 tahun dan duduk di bangku kelas tiga SD sedang bermain petak umpet bersama anak terdakwa yang adalah teman sekolah saksi korban, di rumah terdakwa. Terdakwa yang saat itu berdiri di pintu kamarnya lalu mengatakan kepada saksi korban bahwa anaknya mengumpat di dalam kamar terdakwa.

Tanpa merasa curiga, saksi korban pun masuk kedalam kamar tidur terdakwa untuk mencari keberadaan anak terdakwa. Terdakwa kemudian mengikuti saksi korban dari arah belakang dan menutup pintu kamarnya.
“Saat berada di dalam kamar itu, terdakwa langsung menggendong saya secara paksa dan menidurkan saya diatas tempat tidurnya, kemudian menyetubuhi saya. Saya ingin berteriak tapi terdakwa menutup mulut saya dengan tangannya dan mengancam saya untuk tidak melawan,” ungkap saksi korban sambil menangis, sebagaimana tertuang didalam tuntutan JPU.

Perbuatan yang sama kembali dilakukan ter­dakwa kepada saksi korban di tahun 2015. Saat itu, istri terdakwa memanggil saksi korban untuk makan roti. Saksi korban saat itu berfikir bahwa terdakwa sedang tidak berada dirumahnya, se­hingga saksi korban datang di rumah terdakwa memenuhi panggilan istri terdakwa.

Setelah sampai di rumah terdakwa, saksi korban kaget melihat terdakwa sedang duduk, se­bab saksi korban masih dalam keadaan trauma. Melihat kehadiran saksi korban di rumah, terdakwa langsung menarik tangan saksi korban dan memaksa saksi korban masuk ke dalam kamar terdakwa.

“Waktu di dalam kamar, terdakwa mencoba untuk memperkosa saya lagi, tapi saya terus merontak sambil menangis, akhirnya terdakwa menyuruh saya pulang dan meminta saya untuk tidak menceritakan perbuatanya kepada siapapun,” bebernya.

Perbuatan bejat terdakwa terungkap oleh keluarga saksi korban saat saat korban berkunjung ke rumah tante saksi korban di Amahusu. Melihat postur tubuh saksi korban yang berubah, tante saksi korban curiga dan terus menanyakan pacar dari saksi korban.

“Tante terus tanya saya apakah saya sudah punya pacar atau tidak, dan saya bilang tidak ada pacar. Lalu tante bilang kalau tidak punya pacar kenapa postur tubuh saya berubah. Saya langsung menangis dan akhirnya saya cerita apa yang dilakukan terdakwa,” tutur saksi korban. (RIO)

Selengkapnya Sekretaris Dishub Bursel Divonis 5 Tahun Penjara

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *