Press "Enter" to skip to content

Tsunami Palu Capai Enam Meter

Telah Dibaca : 3602 Kali

SULUH BALI, Jakarta — Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, mengungkapkan tinggi tsunami yang menerjang Kota Palu, Sulawesi Tengah pada Jumat (28/9) dilaporkan mencapai enam meter.

“Kami menerima laporan, tsunami di Palu kemarin ternyata ada yang tingginya mencapai enam meter,” ujar Sutopo di Kantor BNPB Jakarta, Sabtu.

Sutopo menjelaskan pihaknya menerima laporan bahwa ketika tsunami terjadi, ada seorang warga yang menyelamatkan diri dengan memanjat pohon setinggi enam meter.

“Ternyata masih kena juga. Kalau data BNPB ini tsunami melanda empat wilayah dan tiap wilayah ketinggian tsunaminya berbeda dengan status waspada dan siaga,” kata Sutopo.

Untuk melihat daerah yang terlanda tsunami dan ketinggiannya, BNPB masih memerlukan citra satelit sehingga bisa melakukan pendataan, kata Sutopo.

“Mengapa tsunami tidak sama tinggi, ya karena itu tergantung topografi wilayah dan materinya,” jelas Sutopo.

Lebih lanjut Sutopo mengatakan BNPB akan berkoordinasi dengan peneliti tsunami dari berbagai instansi, untuk membantu melakukan pendataan sekaligus untuk mengetahui tingkat ancaman tsunami dan gempa di wilayah Sulawesi.

“Kemudian perlu menjadi pembelajaran ke depan, terkait dengan tata ruang di kota Palu dan Donggala yang perlu disesuaikan dengan tingkat ancaman gempa dan tsunami yang ada,” kata Sutopo.

Wilayah kota Palu dan Donggala dijelaskan Sutopo dilewati oleh sesar patahan Palu-Koro yang setiap tahun bergeser atau bergerak 35 milimeter sampai dengan 45 milimeter sehingga patahan ini Palu-Koro menjadi patahan dengan pergerakan terbesar kedua di Indonesia, setelah patahan Yapen, Kepulauan Yapen, Papua Barat, dengan pergerakan mencapai 46 milimeter per tahun.

“Patahan ini pernah menyebabkan gempa dengan magnitude 7,9 skala richter,” pungkas Sutopo.

 

Kapal Merapat ke Darat

Tsunami di Palu juga mengakibatkan sejumlah kapal justru merapat ke atas daratan dan ini menjadi kesulitan baru, karena kapal yang beratnya ratusan ton ini, harus di derek menuju lautan.

Salah satunya KM Sabuk Nusantara 39 terhempas sejauh 60 meter dari dermaga hingga berada di atas Pelabuhan Weni, Pantoloan akibat hempasan tsunami yang terjadi bersamaan dengan gempa 7,4 skala Richter di Palu pada Sabtu. Kepala Kesekretarian Perusahaan Pelni Ridwan Mandaliko kepada Antara di Jakarta, Sabtu membenarkan kejadian tersebut.

KM Sabuk Nusantara 39 sedang sandar, namun akibat gempa tergeser dari posisi semula hingga 60 meter ke daratan. katanya.

Akbatnya dermaga tempat sandar juga mengalami kerusakan.

Namun, Ridwan memastikan seluruh anak buah kapal (ABK) yang berjumlah sekitar 29 orang selamat.

Alhamdulillah kru semua di atas kapal tidak ada yang terluka, selamat semua, termasuk warga sekitar yang rumahnya saat ini berada di samping-samping kapal tidak ada yang menjadi korban karena sudah menyelamatkan diri, katanya.

Pada saat kapal tersebut bergeser, lanjut dia, kru tersebut masih berada di dalam kapal dan belum sempat mengangkut penumpang.

โ€œBelum berlayar, masih menunggu belum ada menaikkan barang,โ€ katanya.

Terkait evakuasi kapal, Ridwan mengatakan masih akan mengecek kondisi di lapangan dengan mengirimkan sejumlah personel dari Jakarta.

Menurut catatan, kapal Sabuk Nusantara 39 semula beroperasi di wilayah Tanjung Pinang. Sesuai penugasan tahun 2018, kapal ini akan dimutasi ke daerah Tahuna, Sulawesi Utara yang kemudian akan dikelola pihak swasta.

 

Korban Tewas 420 Orang

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Wilem Rampangilei mengungkapkan jumlah korban tewas akibat gempa bumi yang melanda Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah hingga Sabtu malam tercatat 420 orang.

“Itu baru yang di Kota Palu, belum yang di Kabupaten Donggala dan Sigi,” katanya menjawab Antara di Posko Satgassus Penanggulangan Bencana di halaman rumah jabatan Gubernur Sulteng di Jalan Moh Yamin Palu, Sabtu malam.

Selain itu, tingkat kerusakan yang terjadi di Kabupaten Donggala dan Sigi juga cukup signifikan namun belum ada laporan mengenai korban dan tingkat kerusakan karena sulitnya komunikasi.

Karena itu prioritas utama Satgas khusus penanganan bencana ini adalah pencarian dan penyelamatan serta penanganan pengungsi.

“Sampai malam ini, ditaksir 10.000 pengungsi yang tersebar di 50-an titik dalam Kota Palu. Mereka akan diberi bantuan tempat berlindung, makanan dan obat-obatan bagi yang sakit,” ujarnya.

Jenazah korban itu masih disimpan di rumah-rumah sakit dan sebagian sudah dijemput oleh keluarganya. Menurut Wilem, korban tewas ini pasti masih bertambah karena banyak reruntuhan gedung seperti hotel-hotel besar, ruko, gudang, perumahan dan lainnya belum bisa disentuh pencarian.

“Kami kesulitan mengerahkan alat-alat berat untuk mencari korban di bawah reruntuhan gedung karena jalur jalan menuju Kota Palu banyak yang rusak,” ujarnya.

Selain itu, tingkat kerusakan yang terjadi di Kabupaten Donggala dan Sigi juga cukup signifikan namun belum ada laporan mengenai korban dan tingkat kerusakan karena sulitnya komunikasi.

Cukup sulit, kata Wilem, untuk memenuhi makanan siap saji dari kota Palu untuk para pengungsi sehingga hsrus mendatangkan ribuan dos makanan dari Surabaya menggunakan pesawat.

Mengenai perawatan korban yang sakit, kata Wilem, TNI telah mengerahkan sejumlah bantuan medis dan tenaga medis-paramedis bahkan telah mengerahkan Kapal Rumah Sakit yang akan merapat di Koa Palu dalam satu dua hari ke depan. (SB-ant)

 

 

Selengkapnya Tsunami Palu Capai Enam Meter

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *