Press "Enter" to skip to content

Rekomendasi Film “Tanah Mama” Bagi Kaum Muda

Telah Dibaca : 4167 Kali

Oleh: Nourish Christine Griapon)*

Di Wamena orang biasa bekerja,
Di Wamena orang biasa berkebun,
Anak gadis bekerja bersama saudara laki-laki.
Para istri bekerja dengan suami.

Sepenggal lirik nyanyian pembuka dalam bahasa daerah dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Film “Tanah Mama” menjadi sebuah penggambaran riil kehidupan para perempuan saat ini, saat manusia Papua menuju pada peradabannya dan para perempuan pun mengambil bagian di dalamnya.

Film ini baru saja ditonton oleh hampir tiga puluh peserta diskusi bertempat di Asrama Tunas Harapan, Padang Bulan, Jayapura, Sabtu sore, 3 November 2018. Jumlah yang memang diharapkan penyelenggara untuk hadir dan berdiskusi bersama.

Tanah Mama merupakan film dokumenter yang disutradarai oleh Asrida Elisabeth dan diproduseri oleh Nia Dinata. Dibuat pada akhir tahun 2014 (September 2014) dan dirilis 8 Januari 2015, meramaikan perfilman dan tayang di bioskop-bioskop di Indonesia.

Awal mula idenya hanya mendokumentasikan perjalanan hidup seorang perempuan (mama) yang dikenal dengan dukun beranak, atau sering membantu persalinan para perempuan di kampungnya hingga ke kampung-kampung sekitarnya. Perempuan yang sering dipanggil mama Halosina merupakan tokoh utama dalam film dokumenter ini.

Belenggu Derita dan Perjuangan

Berbicara mengenai Papua, tentu akan selalu menarik. Keindahan alam, tanah yang subur, kekayaan hasil bumi yang melimpah. Meskipun demikian, dibalik segala sesuatu yang berkilauan ini, tersimpan banyak ketimpangan. Manusia Papua yang tidak mendapatkan perhatian, dalam hal ini minimnya pelayanan kesehatan dan pendidikan.

Di tengah-tengah persoalan yang membelenggu manusia Papua, ada perjuangan hidup seorang perempuan bernama Mama Halosina. Mempertahankan kehidupan anak-anaknya hingga pada akhirnya dituduh sebagai pencuri di ladang milik adik iparnya (adik perempuan suami mama Halosina).

Sudah hampir dua bulan semenjak mama Halosina meninggalkan Kampung Huguma, Wamena, dan tinggal bersama kakak perempuan serta kakak iparnya di Kampung Anjelma. Tentunya banyak anggapan bahwa perempuan itu membawa serta keempat anaknya untuk pindah ke rumah kakak perempuannya adalah karena dia mencuri ubi dan tak mampu membayar denda yang telah disepakati bersama pemilik lahan juga kepala kampung.

Hari itu orang ramai berkumpul, hari panen telah datang dan tentu saja kebahagiaan terlihat jelas di wajah para perempuan yang memanen hasil kebun mereka. Namun, di tengah kegirangan itu, air mata mama Halosina yang jatuh dan ia seka berulang kali adalah kesedihan yang tidak dapat dibendung lagi, panen kali ini mama dan keempat anaknya tidak dapat ikut serta sebab tidak mempunyai lahan untuk ditanami sayuran dan ubi.

Setelah hari panen, suaminya kembali pulang dan menghampirinya di rumah.

“Saya mengambil ubi di kebun adik mu, jadi masalah besar. Saya tidak mencuri, perempuan itu adik kandungmu. Sehingga saya ambil ubi di kebunnya, tapi dia bilang kita bukan keluarga. Jadi dia melaporkan saya ke kepala kampung. Adik ipar melaporkan saya itu semua gara-gara kamu, saya tidak mungkin ambil kalau kamu kasih kebun dan saya juga berpikir anak-anak akan makan apa?” keluh mama Halosina kepada suaminya.

Suaminya hanya merespon seadanya, bahkan terkesan tak acuh dan tidak menyelesaikan masalah, sehingga suaminya harus berada di antara penghakiman para lelaki Kampung Huguma dan membicarakan tentang kepergian Halosina dan keempat anaknya ke rumah kakak perempuannya di Kampung Anjelma serta tidak bertanggungjawabnya Hosea, suami mama Halosina.

Sungguh beban yang dipikul oleh Halosina sangat berat tak hanya tuduhan mencuri dan suaminya yang tidak membukakan lahan untuknya berama keempat anaknya bertahan hidup dengan bercocok tanam. Hosea pun mempoligami Halosina dengan seorang perempuan muda bernama Tina, yang telah memberikan empat anak juga kepadanya.

Diskriminasi yang diterima oleh Halosina tetap terjadi yakni anak-anak Hosea dari mama Haloina tidak ada satu orang pun yang mengenyam pendidikan. Hanya anak-anak dari mama Tina yang mengenyam pendidikan. Hosea pun hanya membukakan lahan baginya. Bahkan, bagi Hosea, anak keempatnya bersama Halosina bukanlah darah dagingnya.

Adanya ketertindasan yang dirasakan perempuan Papua, tidak semerta-merta terjadi karena perilaku laki-laki. Penindasan terhadap perempuan biasanya dilihat dari segi kelas sosial. Dalam hal ini, Tanah Mama memberikan gambaran nyata bahwa mama Halosina menghadapi situasi yang berhubungan dengan ekonomi. Keempat anaknya tidak bersekolah, makan pun tidak, bahkan untuk berbelanja obat untuk anak di kota pun dia harus merelakan sebagian besar uang hasil penjualan sayur di pasar. Persoalan ekonomi menyebabkan suaminya harus terus turun ke kota. Persoalan ekonomi Halosina tidak mempunyai relasi yang baik dengan keluarga Hosea suaminya.

Persoalan lainnya juga muncul karena adanya pergeseran budaya yang beranggapan bahwa kerja kebun sudah tidak pantas dilakukan lagi. Hal ini tergambar jelas pada saat Hosea mengatakan dia turun ke kota dan sudah tidak bekerja di kebun lagi. Pada malam dimana Hosea duduk bersama para lelaki di Honai laki-laki.

Persoalan seperti ini menimbulkan adanya kekerasan yang sering kali diterima oleh perempuan tanpa terkecuali. Bukan lagi budaya dikriminasi, tetapi pokok-pokok persoalan yang pada tingkatan atasnya merupakan persoalan ekonomi, sosial, politik, budaya (ekosospolbud).

Perlu memang dikaji secara mendalam mengenai penindasan perempuan saat ini khususnya perempuan Papua. Agar tidak menyudutkan pihak-pihak yang sering distigma pelaku kekerasan terhadap perempuan. Karena beban ganda yang diterima perempuan pada umumnya merupakan beban yang diturunkan dari penindasan terhadap laki-laki yang diterima dari ekosospolbud.

Misalnya, kekerasan yang dilakukan negara di atas lahan masyarakat karena termasuk wilayah DOM. Laki-laki yang menerima intimidasi karena lahannya harus dipergunakan untuk kepentingan negara menjadi korban kekerasan, sehingga perempuan mendapatkan kekerasan turunan dari kekerasan negara melalui laki-laki. Entah terjadi kekerasan dalam rumah tangga karena beban ekonomi atau intimiasi, atau pada akhirnya perempuan mendapatkan diskriminasi karena stigma-stigma yang terbentuk.

Perlunya pembangunan kesadaran kolektif yang dilakukan oleh semua pihak dalam hal ini kesadaran bersama yakni kesadaran kolektif yang dijalankan tidak hanya oleh perempuan, tetapi juga laki-laki, tua maupun muda. Sehingga kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia dan khususnya di Papua dapat dihentikan.

Film ini wajib ditonton dan didiskusikan oleh kaum intelektual dalam hal ini mungkin lebih banyak mahasiswa dan pemuda. Karena pola penyadaran ini dapat dilakukan oleh mereka yang menyadari bahwa kekerasan harus dihentikan baik kepada laki-laki maupun perempuan.

Diskusi dan Rekomendasi

Adapun posisi yang diisi oleh perempuan di keluarga adalah selain posisi dapur, ia juga dipercayakan mengelola kebun yakni menanam sayuran dan ubi. Berladang adalah aktivitas yang sering diposisikan untuk perempuan. Sehingga ada ungkapan mama dan noken, mama dan kandang babi, mama dan ladang, mama dan tungku api.

Dalam diskusi ini antusiasme yang ditunjukan oleh para peserta diskusi sangat baik, sehingga banyak dialektika dan bahkan ada rekomendasi yang bertujuan baik dari film dokumenter Tanah Mama itu sendiri.

Asrida Elisabeth hadir sebagai pemateri yang mengulas mengenai teknis pembuatan film juga latar belakang film yang mana lebih banyak menceritakan kisah mama Halosina. Dalam catatannya, dia mengungkapkan bahwa dalam budaya orang Wamena terdapat pembagian kelompok, yakni kelompok laki-laki dan kelompok perempuan. Kelompok laki-laki jika berkumpul biasanya topik bahasannya adalah topik bahasan yang besar tentang budaya, ekonomi, dan bahkan politik.

Sedangkan para perempuan akan membicarakan hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan mereka, seperti kebun, tanaman sayuran, pasar, anak-anak yang sakit dan pendidikan bagi anak-anak mereka, bahkan tentang pelayanan pemerintah yang tidak berjalan baik bagi mereka.

Mama Halosina sendiri merupakan dukun beranak yang sebenarnya ini merupakan ide awal dari film dokumenter ini yakni menceritakan kehidupan mama Halosina sebagai perempuan penolong perempuan lainnya. Namun, di tengah perjalanan pembuatan film dokumenter, ternyata konsep cerita diubah dengan mendokumentasikan kehidupan seorang mama yang dituduh mencuri dan harus membayar denda babi satu ekor atau dibayarkan uang sebesar satu juta rupiah.

Menurut Asrida, gambaran lain dari film ini yang ditampilkan juga adalah situasi masyarakat yang berelasi dengan kondisi geografi dan kondisi kehidupan manusianya. Yang mana hal ini juga berpengaruh pada hidup masyarakat Papua yang masih menyatu dengan pertanian, namun secara perlahan mulai terkikis oleh perkembangan peradaban yang mana mengikis juga budaya yang baik seperti kerja sama antara suami dan isteri dalam bentuk pembagian kerja membuka lahan dan menggarap lahan juga mungkin kan berpengaruh terhadap anak-anak mereka.

Hadir sebagai pemateri kedua, Lena Daby juga membicarakan hal-hal yang sangat dekat dengan kondisi perempuan Papua saat ini. Lena bergabung dengan AJAR (Asia Justice and Rights) memaparkan kondisi saat ini mengenai perempuan Papua.

Menurutnya, isu tentang perempuan Papua di setiap wilayah berbeda dan lebih kompleks. Sehingga perempuan Papua seakan-akan memikul beban ganda, bukan hanya menjadi korban secara langsung, melainkan menjadi korban dengan tingkatan lapisan yang banyak.

Lena mencontohkan beberapa kasus yang terjadi di seluruh Papua misalnya, di Kabupaten Keerom. Tepatnya di lahan kelapa sawit, ada seorang pekerja perempuan yang Lena kutip pesannya. “Otsus itu memanjakan laki-laki, makanya dong tra kerja,” kata mama Maria, seorang pekerja perempuan di lahan kelapa sawit di Kabupaten Keerom.

Bahkan kecemburuan sosial pun timbul dikarenakan lapangan pekerjaan yang diisi sebagian besar masyarakat translokal seperti Biak, Serui dan sebagainya, sedangkan penduduk asli hanya bekerja sebagai buruh.

Kebutuhan sehari seperti air bersih, transportasi dan fasilitas umum lainnya tidak disediakan oleh perusahaan, bahkan hal ini juga terjadi di Kabupaten Merauke. Sehingga kekerasan dalam rumah tangga tidak dapat dihindarkan dari kehidupan seorang perempuan.

Lena mencontohkan juga kondisi para perempuan di Biak, yang mana menjadi korban berlapis bukan hanya ekonomi keluarga, kepentingan perusahaan, bahkan kepentingan negara. Kita mengenal Biak merupakan Daerah Operasi Militer (DOM) untuk kepentingan negara menjaga keamanan daerah Pasifik terjadi intimidasi yang besar terhadap masyarakat di Biak. Bahkan diberikan stigma bahwa siapa pun yang tidak menyerahkan tanahnya bagi kepentingan negara merupakan separatis dan musuh negara.

Dalam diskusi ini ada juga tanggapan yang dikemukakan peserta diskusi. Orgenes Ukago mengungkapkan adanya kebiasaan kekerasan yang dipikul dan menjadi tradisi dan kita harus secara cermat menelusurinya lebih jelas.

Yance Tebai juga memberikan tanggapan bahwa kebiasaan yang dijadikan budaya ini semakin lama semakin terkikis. Laki-laki tidak lagi memperhatikan tanggung jawabnya sebagai suami dan isteri juga demikian, berbeda dengan dulu yang masih mempertahankan norma-normanya.

Agus Ukago dalam diskusi melihat adanya perubahan budaya pada masyarakat saat ini karena adanya pengaruh budaya luar.

Claus Pepuho menyampaikan pendapat dengan mengatakan bahwa diskriminasi yang terjadi terhadap perempuan dalam film dan juga terjadi di kehidupan kita sehari-hari. Bahkan, kata dia, sebenarnya hal ini terjadi dikarenakan pergeseran kultur dari waktu ke waktu. Pada masa lalu peradaban Papua terdapat pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan, sehingga ketika hari ini terjadi hal-hal yang bahkan tidak sesuai dengan masa lalu merupakan akibat dari pergeseran tersebut.

Maka, kita harus menelusur lebih dalam hal apa saja yang menyebabkan diskriminasi serta penindasan lainnya. Dan bisa jadi hal ini juga merupakan sebuah kebiasaan buruk yang secara turun temurun terus dipelihara, sehingga dianggap menjadi budaya dalam komunitas masyarakat tertentu.

Senada dengan Claus, Herman dan Sanggu juga menyampaikan pendapat mengenai pergeseran kultur masyarakat Papua. Dalam hal ini yang dianggap paling menyentuh masyarakat adalah budaya instan yang dibiasakan oleh pemerintah terhadap masyarakat Papua. Seperti Raskin dan Otsus, bahkan Dana Desa.

Elis dan Chika menambahkan rekomendasi untuk merefleksikan masa depan dan tentu saja film ini menjadi perwakilan gambaran riil kehidupan perempuan pada umumnya.

Iki Pekey menjelaskan mengenai desentralisasi diskriminasi karena cinta. Dengan demikian perjuangan hak perempuan harus didukung sepenuhnya dan diberikan ruang.

Fonsa pun menyampaikan hal yang sama dengan kawan-kawan peserta diskusi lainnya yakni hal ini dapat terjadi karena masalah kebutuhan, yang berhubungan erat dengan pemahaman kesadaran, masalah keuangan atau ekonomi juga sosial budaya.

Akhir kata, perjuangan pembebasan bangsa tidak pernah terlepas dari perjuangan pembebasan perempuan. Untuk itu, perjuangan pembebasan perempuan juga tidak terlepas dari peran laki-laki dalam perjuangan. Karena dengan perjuangan pembebasan perempuan, kita juga bersama menghadapi penindasan yang tidak hanya ditujukan bagi perempuan, tetapi bagi laki-laki juga.

)* Penulis adalah aktivis Perempuan Papua

Selengkapnya Rekomendasi Film “Tanah Mama” Bagi Kaum Muda

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *