Press "Enter" to skip to content

Refleksi Tentang Mengkritik: Hal Yang Mubasir, Apalagi Di Tujukan Ke Pemerintah Papua

Telah Dibaca : 2844 Kali

Hari ini saya belajar untuk tahan dan tidak lagi mengkritik orang lain terutama Pemerintah Provinsi Papua. Alasan paling dasar adalah ketika saya kritik seseorang terutama pemerintah Provinsi Papua, saya akui isinya sedikit mengenai orang atau pemerintah mereka yang saya kritiki, namun ini lebih terkesan jadinya ke arah keinginan saya memenuhi kebutuhan saya untuk menjadi seorang yang kritis. Ini suatu kondisi yang saya mulai rasakan ketika melihat respon balik yang saya dapati (baik/buruknya) dari surat terbuka yang saya layangkan ke pemerintah, dalam hal ini Gubernur Papua, Bapak Lukas Enembe.

Beberapa responses yang saya dapati diantaranya:

  • Tidak sopan, tidak beretika, tidak bermoral dan kata sejenis ini
  • Terima kasih adik sudah menyampaikan hal yang selama ini kami ingin sampaikan namun tidak ‘berani’ langsung.
  • Adik, tulisan adik itu menunjukan ketidakberesan pemerintah tanah ini melihat adik-adik yang adalah asset daerah ini
  • Adik, bagaimana, pemda sudah bantu ka, sukses untuk adik
  • Itu dia tulis itu supaya dikasih jabatan dan dapat beasiswa
  • Itu dia tulis surat terbuka dan artikel-artikel yang tidak pro-pemerintah supaya diperhatikan
  • Adik, bagaimana, Pa Gub sudah kasih adik berapa?
  • Adik, bagaimana, dana yang dapat kasih itu jangan lupa ingat kakak kita lain dan beberapa feedback lainnya.

Merujuk pada feedback yang saya dapatkan, berikut saya tegaskan:

  • Saya rasa memang dari awal tujuan saya menulis surat terbuka ini terkesan karena kebutuhan saya untuk dihargai dan seakan tulisan sesansi. Disini, saya hanya bisa sampaikan yaitu surat ini bukan saya tulis baru pada hari itu. Ya, seakan saya bangun dan mimpi dan langsung tulis surat tersebut. Saya sudah melakukan lobby hingga menulis surat audiens untuk bertemu bapak Gubenur lewat Sekdapun sudah saya lakukan dan saya terus datang dan cek langsung namun tidak ada respon hampir selama 6 bulan. Saya lakukan ini disela-sela saya menjadi guru tidak tetap di salah satu SMP/SMA di Sentani. Saya bolak balik Sentani-Jayapura hampir 3 hari seminggu selama 6 bulan. Ini yang saya tidak jelaskan dalam surat terbuka tersebut sehingga membuat banyak persepsi yang berbeda-beda. Saya Juga ‘setor’ muka bolak balik masuk keluar kantor gubenur itu dengan harapan surat audiens saya terjawabkan untuk bisa menyampaikan maksud dan tujuan saya untuk dapat di berikan kesempatan untuk berkontribusi lewat ide/masukan untuk perubahan strategi pendidikan di tanah Papua ini untuk menghadapi tantangan globalisasi kedepan.
  • Saya lihat masalah pendidikan di tanah ini sudah jalan otomatis dan saya melihat tidak ada suatu rencana jelas kedepan sehingga saya harus menawarkan pikiran-pikiran saya dan ini ingin saya capai lewat audiensi dengan Bapak/Ibu pejabat negeri ini namun tak ada respon.
  • Ya, benar juga sebenarnya, buat apa saya ikut prihatin dan ingin menyampaikan dan mendorong beberapa ide masukan karena toh juga tidak ada benefitnya kepada saya secara individu selain kepuasan hati telah ikut berkontribusi. Saya tidak tahu apa penilaian dari orang-orang atas apa yang ingin saya lakukan dan saya ingin sampaikan bahwa saya rasa dan ambil tindakan  ini sebagai salah satu kewajiban untuk mengingatkan bapak/ibu pejabat Papua, sebagai anak negeri ini, untuk sadar dari bahwa karena gara-gara aspek educations ini dahulu kita di anggap bodoh sehingga Amerika merasa lebih mudah berbisnis dengan orang Indonesia membuat mereka ‘sided’ dengan NKRI dalam proses aneksasi Papua dengan tumbal PTFI yang sekarang ini sedang di rancang agar memberikan benefit bagi negara ini. Juga, gara-gara dulu kita di anggap tidak mampu sehingga kita telah di tolak untuk menjadi manusia sejajar dengan semua bangsa di dunia ini. Alhasil, kita hari ini menjerit dalam bingkai negara yang sudah adopt kita ini. Dari refleksi saya, saya bertanya apakah ini gara-gara kita tidak mempersiapkan banyak hal saat itu, yang kaitannya dengan pendidikan kah, maka kita hari ini ada seperti saat ini, terdesak/termarginalisasi?  Ini menjadi keprihatinan saya dan banyak dari kaum muda ini, secara pribadi ini menjadi pergelutan batin saya. Saya lihat kondisi pendidikan kita ini harus jauh lebih baik dan di rancang dengan cara khusus sehingga hari esok kita bukan saja bersaing dengan saudara/i nusantara yang ada di Papua bahkan yang ada di Indonesia ini namun kita bisa berdiri untuk atur tanah ini, juga Indonesia bahkan negara manapun di dunia ini. Semua itu bisa kalau hari ini kita rancang cara bagaimana buat orang kita ini, orang Papua, sedemikian rupa sehingga kami bisa dianggap dan tidak di pandang remeh. Ini persoalan yang saya lihat hari ini. Ini persoalan yang harus saya sampaikan ke bapak pemimpin negeri ini namun seakan bapak/ibu pejabat kalian menolak ini dan menutup pintu rapat-rapat hingga tidak ada ruang bagi saya, walaupun surat audiensi saya layangkan dan saya cek berbulan-bulan.
  • Kembali ke point pembukaan diatas, saya sampaikan dari kesekian kalinya, diakhiri dengan surat terbuka yang saya layangkan ke Bapak Gubernur Papua 3 bulan lalu, saya sudah makin yakin (lagi) bahwa mengkritik itu tidak ada gunanya. Mengkritik itu sepertinya hanya suatu hal yang memuaskan diri saya, atau siapapun yang mengkritik, untuk menjadi kritis. Tidak ada hal baik yang muncul dari kritik. Tidak ada orang yang datang bilang, ‘terima kasih sudah ingatkan’ sukes selalu dan kami minta terus sampaikan masukan/kritik. Tidak ada sama sekali. Semua sambil lalu. Disini, saya mulai sadar, sudah tidak penting apalagi perlu untuk mengkritik. Toh, dari banyaknya respon balik, kebanyakan semua balik menyalahkan saya, tersinggung, bahkan bersifat defensif bahkan jawaban yang dikasihpun oleh pihak yang di kritisi, dalam hal ini Sekda Provinsi Papua, hanya sebuah ‘jawaban wacana’ yang realisasinya NOL-BESAR. Saya cukup sesalkan kenapa harus surat itu saya naikan di Facebook yang kemudian di sadur dan di angkat ke media lokal oleh seorang adik yang melihat pentingnya tulisan surat terbuka ini di angkat. Saya rasa sudah cukup mengkritik karena hal baik yang hadir dari kritikan saya itu sama sekali tidak ada.

Sebagai kesimpulan, saya ingin sampaikan:

  • Terima kasih untuk semua feedbacks yang diberikan kepada saya, juga  sudah ingatkan saya untuk lebih santun dan sopan dan bermoral. Jelas bagi saya, hal ini saya sudah saya miliki sebagai individu manusia Papua yang dirasakan oleh orang disekitar saya. Saya sudah cukup memberikan kritikan apalagi kepada pejabat Papua ini karena hal ini tidak mendatangkan perubahan ataupun perubahan paradigma berpikir
  • Surat terbuka saya yang disampaikan 3 bulan itu telah di jawab pemerintah lewat Sekda Provinsi Papua walau itu hanya sebuah jawaban-jawaban saja. Saya tegaskan tidak ada respons apapun apalagi follow up. Saya cukup sampaikan terima kasih sudah di respons. Semoga surat terbuka/teguran ini bisa di jadikan referensi untuk Bapak/Ibu pejabat di atas sana agar lebih peka lagi melihat kondisi ril pergeseran civic society Papua ini terutama kebutuhan pendidikan dasar, menengah dan tinggi orang Papua untuk bisa diperhitungkan kedepan, at least, dapat survive bahkan thrive serta terus mendiami tanah ini bahkan ikut menjadi agen perubahan dunia di negara dan benua mana saja.
  • Saya tidak terima dana apapun dari pimpinan provinsi ini sehingga mohon tidak di bangun opini-opini apapun. Saya sampaikan bahwa tidak akan ada lagi masukan(kritikan) dari saya kepada Bapak/Ibu pejabat tanah ini karena saya yakin mengkritik Bapak/Ibu Pejabat khususnya Pemerintah Provinsi  ini sia-sia dan wasting time/efforts.

Selengkapnya Refleksi Tentang Mengkritik: Hal Yang Mubasir, Apalagi Di Tujukan Ke Pemerintah Papua

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buat Sistem Informsi Mu Sekarang