Press "Enter" to skip to content

Mengolah Batang Sawit Menjadi Gula Merah, Sumber Ekonomi Baru

Telah Dibaca : 3945 Kali

DATARIAU.COM – Batang sawit yang ditebang dibersihkan hingga terlihat bagian umbut. Bagian putih itu dideres atau diiris tipis kemudian akan keluar air nira yang ditampung dalam waktu 8 hingga 10 jam. Penderesan dilakukan dua kali sehari pagi dan sore hari saat air nira diangkat.

Biasanya hasil dari kelapa sawit identik dijadikan minyak dan produk turunan lain yang banyak dipakai sehari-hari. Tapi, siapa sangka batang kelapa sawit yang telah dirobohkan atau ditebang ternyata bisa menghasilkan produk lain bernilai ekonomi tinggi

Ya menjadi gula merah. Ini bukan sebatas rencana atau hasil penelitian yang menunggu terapan, namun telah berproduksi di Sumatra Utara dan Aceh dan Riau. Tidak sedikit warga di sekitar perkebunan kelapa sawit yang telah menjadi pengusaha gula merah dengan omzet tidak sedikit, dan mampu mempekerjakan banyak karyawan.

Ya seperti di sejumlah kabupaten di Sumatera Utara (Sumut). Sejumlah warga berinisiatif mengambil nira dari umbut kelapa sawit yang sudah ditumbangkan dalam proses replanting atau penanaman kembali. Sebelumnya, batang sawit yang tua ditebang dan dibiarkan membusuk secara alami di tanah. Dan itu batang sawit dianggap hanya sampah dan bahkan mengundang hama yakni kumbang yang tertarik menghisap air nira.

Kemudian bagi petani yang menghadapi masa replanting, mengambil nira dan dijadikan gula merah merupakan solusi ekonomi hingga sawit kembali produktif.

Dr Donal Siahaan, Kepala Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Sumatera Utara, menceritakan temuannya pada saat kebun hendak diremajakan, warga telah menemukan cara memanfaatkan batang kelapa sawit yang telah ditebang.

“Selama proses replanting, ternyata masyarakat sudah menghasilkan gula merah dari kelapa sawit. Mereka deres (menyadap) nira dari batang kelapa sawit yang sudah ditebang. Ini sangat bagus, terutama untuk mengurangi jumlah hama kumbang yang merusak pohon sawit,” jelas Ronald.

Berkat penyadapan batang pohon kelapa sawit ini, masyarakat mendapat keuntungan ganda yaitu hama berkurang dan gula merah yang memiliki nilai ekonomi yang membantu kesejahteraan masyarakat. Untuk itu pihaknya terus mensosialisasikan inovasi tersebut kepada masyarakat yang belum mengetahui.

“Hama kumbang bisa ditekan karena air nira yang manis itu sudah hilang jadi kumbang tak mau lagi bersarang di batang tersebut. Hama ini juga dapat merusak pohon lain, sehingga manfaat penderesan bagi perkebunan rakyat sangat menguntungkan,” paparnya.

Ia melanjutkan, selain itu berdasarkan riset yang ditemukan PPKS, bahwa gula merah yang berasal dari air nira dapat mencegah potensi diabetes jauh lebih baik dibandingkan dengan gula pasir putih.

Sementara Ucok, warga Desa Pegajahan Kecamatan Pegajahan, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumut menjelaskan bisnis gula merah nira sudah Ia lakukan sejak tahun 2013 lalu. Dalam satu hari usahanya mampu menghasilakan 500 kilogram gula merah nira.

“Awalnya kecil-kecilan deres berdua saja sama istri lama-lama jadi besar dan sekarang sudah punya karyawan. Gula merah biasanya kami distribusikan ke Medan, Pekanbaru, Siantar, dan pernah juga sampai Malaysia. Di desa ini ada sekitar 50 orang yang punya usaha gula merah nira tapi rumahan semua,” tutur Ucok.

Dalam satu batang pohon kelapa sawit bisa menghasilkan 10 liter air nira, dalam satu jerigen air nira yang berisi 35 liter ketika diolah bisa menjadi 7-8 kilogram gula merah.Gula merah dijual dengan harga Rp 11ribu hingga Rp12 rupiah perkilogramnya.

“Biasanya kalau sudah ditebang dan dideres 5 bulan kemudian pohon kelapa sawit akan membusuk. Tapi kalau hanya ditebang tanpa dideres, dalam 5 bulan belum tentu pohonnya membusuk dan ini akan mengundang hama kumbang menggerayangi pohon kelapa sawit,” pungkas Ucok.

Proses pembuatan gula merah nira sama seperti pembuatan gula merah pada umumnya, setelah dimasak berjam-jam gula merah dimasukkan kedalam cetakkan hingga mengeras.

Potensi Besar Termasuk di Sumsel

Gula merah dari nira sawit dapat dikembangkan di Sumsel, yang memiliki banyak petani menanam sawit dan perkebunan sawit yang luas.

Apalagi Sumsel memiliki kebutuhan gila merah yang cukup tinggi dalam proses pembuatan cuka pempek. Selama ini, pembuat pempek di Kota Palembang menggunakan gula merah, yang menurut mereka kualitas bagus, dari Kota Lubuklinggau.

Terlepas dari itu, pohon sawit yang ditebang dan dibuang atau dibiarkan membusuk, dapat memberikan nilai ekonomi baru bagi masyarakat di sekitarnya.

Setiap tahun dipastikan banyak pohon sawit yang ditebang dalam rangka replanting atau penanaman kembali. Penderesan dapat dilakukan pemilik kebun atau warga sekitar, sehingga meningkatkan peran perusahaan perkebunan mengangkat perekonomian sekitarnya.

“Itu menarik. Perhektar dapat 6,8 ton. Setiap tahun ada sekitar 500 ribu hektare replanting, berarti ada potensi produksi gula merah sawit sekitar 3.6 juta ton/ tahun. Berarti dari gula merah sawit kita bisa swasembada gula,” ujar Ketua Gapki Sumsel Hary Hartanto. (*)

Selengkapnya Mengolah Batang Sawit Menjadi Gula Merah, Sumber Ekonomi Baru

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buat Sistem Informsi Mu Sekarang