Press "Enter" to skip to content

IKMI Kampar Bedah Buku Tentang Manajemen Pengelolaan Masjid

Telah Dibaca : 1930 Kali

TAPUNG, datariau.com – IKMI Kampar  sebagai salah satu Ormas Islam yang bergerak di bidang dakwah keislaman, khususnya kegiatan berbasis masjid merasa berkewajiban untuk kembali memfungsikan dan mengembalikan masjid sebagai sentral kegiatan umat.
Masjid tidak hanya melaksanakan ibadah mahdhah semata tetapi juga ibadah ghairu mahdhah lainnya, seperti  wadah ekonomi umat, pendidikan generasi muda, sosial kemasyarakatan dan lain sebagainya. Dengan demikian seharusnya Masjid menjadi tempat yang paling sering dikunjungi, dicintai dan selalu merasa terikat dengan masjid.
Mengelola masjid berarti mengelola Rumah Allah. Maka dengan demikian mengelola masjid memerlukan perencanaan yang matang, maket yang jelas dan ini dimulai sejak dibangun hingga melaksanakan kegiatan dan fungsi masjid. 
Untuk membantu masyarakat khususnya pengurus dalam mengelola masjid dengan baik dan sesuai dengan syariat, maka IKMI Kampar telah menulis dan mensosialisasikan buku panduan “Manajemen Pengelolaan Masjid IKMI Kampar”.
“Insyaa Allah dengan buku dan sosialisasi ini para pengurus masjid dapat terbantu dan memfungsikan masjid sebagaimana mestinya yaitu masjid yang baik sebagai tempat pusat dan kegiatan umat,” demikian disampaikan oleh Penanggungjawab kegiatan sekaligus Sekretaris Umum IKMI Kampar Ustazd Dr Jhon Afrizal SHI MA, Jumat (15/3/2019).
Sebagai narasumber utama dalam sosialisasi dan Bedah buku ini adalah Ustazd H Syahrul Aidi Maazat Lc MA,  beliau juga salah seorang penulis buku sekaligus Ketua Umum IKMI Kampar. 
Dalam pemaparannya secara umum beliau menyampaikan 5 hal, pertama, membangun masjid harus sesuai dengan kebutuhan kegiatan dan refresentatif serta tidak boleh asal jadi sehingga terkesan mubazir seperti lantai 2 masjid yang tidak terpakai.
Kedua, kegiatan utama masjid adalah ibadah rutin seperti sholat lima waktu, oleh karena itu masjid harus mempunyai imam ratib tetap yang baik dan sesuai kriteria syariat, demikian juga dengan muazzin harus ditetapkan jika perlu mereka digaji.
Imam dan muazzin yang baik menjadi daya tarik utama masyarakat untuk datang ke Masjid. Selama ini Imam dan muazzin terkesan dadakan, siapa duluan bahkan tak jarang jamaah melihat saling dorong maju untuk jadi imam. 
Ketiga, kegiatan dakwah harus tersusun rapi dan terjadwal sehingga umat bisa mendengar dan mengamalkan ilmu didengarnya. Harus ada Silabus dan tema yang disusun untuk satu periode. Demikian juga pemateri atau ustad yang diakui keilmuannya.
Keempat, sumber keuangan masjid tidak dari infaq jamaah semata, tetapi dengan kegiatan lainya seperti kotak infaq uang receh disetiap rumah jamaah yang dikutip setiap pekan atau bulan, kebun usaha masjid, minimarket dan usaha lainnya.
Kelima, kotak infaq mencakup seluruh kegiatan di dalam dan luar yang berkaitan dengan masjid.  
Hasil yang ingin dicapai adalah menjadikan masjid sebagai tempat rutinitas ibadah maupun  kegiatan sosial dan politik (kajian ilmu politik Islam) serta lain sebagainya. 
Kegiatan ini diikuti oleh 141 orang peserta yang terdiri dari pengurus IKMI kecamatan, para pengurus dan imam masjid yang ada di 3 kecamatan; Tapung, Tapung Hulu dan Tapung Hilir. Sosialisasi dan bedah buku ini dilaksanakan pada tanggal 7 Maret 2019 lalu dan bertempat di Masjid Raya Kecamatan Tapung. (das)

Selengkapnya IKMI Kampar Bedah Buku Tentang Manajemen Pengelolaan Masjid

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buat Sistem Informsi Mu Sekarang