Press "Enter" to skip to content

Pengerajin Tikar dan Tas Daun Kajang Terkendala Pemasaran

Telah Dibaca : 2081 Kali

Melawi, Mediakalbar – Upaya pengembangan produk kerajinan tikar dan tas dari bahan daun kajang di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, hingga kini masih terkendala pemasaran.

Salah seorang perajin di dusun Sungai Putih, Desa Tanjung Tengang, Kecamatan Nanga Pinoh, Susana Nani (32) mengatakan, bahwa kreativitas perajin tikar dan tas dari bahan daun kajang selama ini masih terkendala dengan pemasarannya.

Menurut dia, pangsa pasar untuk produk tikar dan tas kajang di Melawi sangat terbatas. Kalaupun ada, pembeli lokal umumnya menawar dengan harga yang relatif rendah. Hal itu dinilai tidak sepadan dengan tingkat kesulitan membuat tikar maupun Tas.

“ Hingga saat ini pembuatan tikar dan Tas masih bergantung pada pesanan. Biasanya pesanan ada ketika akan ada stand Pameran, selebihnya ya pesanan lokal, bahkan dipkai sendiri ” terang Susana Nani. Minggu (24/3/2019).

Proses pembuatan tikar dan tas dari bahan daun kajang memang tak semudah yang dibayangkan. Tak heran jika harga tikar maupun tas daun kajang ini relatif mahal, dan itu setimpal dengan tingkat kesulitan proses pembuatannya.

Selain itu juga bahan pewarna khusus yang susah didapat, adapun pewarna dipesan dari luar Kabupaten Kapuas Hulu.

” Bahan untuk pewarna khusus daun kajang di Melawi ini belum pernah ada ditemukan, kami memesan ke daerah kapuas hulu, itupun sudah mulai susah didapatkan, bahkan pernah dicoba dengan pewarna kimia, tetapi hasilnya tidak memuaskan, ” Ungkapnya.

Produksi tikar umumnya dilakukan secara terun temurun, sehingga sampai saat ini masih tetap lestari. Mereka masih mempertahankan kerajinan tradisional ini.

Susana Nani menjelaskan, butuh waktu sekitar dua minggu untuk satu anyaman tikar ukuran 1,80 cm x 1,10 cm, mulai dari pengambilan daun kajang, membuang tepi tengah dan pinggir. Dilanjutkan dengan proses mengiris.

Tak hanya itu, irisan daun kajang masih harus diwarnai dan dijemur, baru dilanjutkan dengan proses terakhir yakni menganyam tikar atau tas dengan berbagai motif.

Harga tikar pandan sendiri berfariasi, tergantung ukuran dan motifnya. Rata-rata satu tikar ukuran kecil dibandrol Rp.150 ribu hingga Rp.200 ribu. Untuk tas biasanya dibandrol Rp.30 ribu hingga Rp. 100 ribu sesuai besar dan motif tas.

Susana Nani berharap adanya perhatian dari Pemkab Melawi, melalui Dinas terkait, agar kerajinan anyaman dari bahan daun pandan ini bisa dipasarkan keluar daerah bahkan exspor.

” Pengerajin seperti kami hendaklah diperhatikan oleh pemerintah, agar hasil kerajinan kami ini ada wadah yang membantu mempromosikan dan menyalurkan pemasarannya,” Harapnya.(Bgs).

Selengkapnya Pengerajin Tikar dan Tas Daun Kajang Terkendala Pemasaran

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sponsor By :

Muhammad Ullil Fahri,S.Pd.M.TI

www.mfahri.web.id