Press "Enter" to skip to content

Musdat ke-V Lemasko, Masyarakat Kamoro Diajak Saling Mengasihi

Telah Dibaca : 9165 Kali
Pastor Paroki Tiga Raja, Amandus Rahadat.(Foto-Acik) 

SAPA (TIMIKA) – Berkenaan dengan pelaksanaan Musyawarah Adat (Musdat) ke-V Lembaga Musyawarah Adat Suku Kamoro (Lemasko) periode 2019-2024, masyarakat Kamoro diajak untuk saling mengasihi.
Ajakan ini disampaikan Pastor Paroki Tiga Raja, Amandus Rahadat dalam renungan singkat pada pembukaan Musdat ke-V Lemasko di gedung PMCC, LPMAK Jalan Baru, Selasa (9/4).
Menurut Pr Amandus, dalam Injil Lukas Tuhan bersabda supaya saling mengasihi, seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikian juga Aku telah mengasihi kamu. Tinggalah di dalam kasihKu itu. Jakalau kamu turuti perintahKu, kamu akan tinggal di dalam kasih Ku seperti Aku menuruti perintah Bapa ku dan tinggal di dalam kasihNya.
“Sub Tema Musdat ini sangat mendalam yakni Dengan Semangat Musyawarah Adat Lemasko ke V Kami Tingkatkan Solidaritas Antara Sesama Wee Mimika Untuk Meningkatkan Adat dan Budaya, Serta Melindungi Hak-hak Besar Masyarakat Adat Suku Kamoro,” ungkapnya.
Karena itu, masyarakat Kamoro harus tahu bahwa sebelum kita mengenal Agama dan Injil diperkenalkan kepada umat Kamoro, umat kamoro sudah punyai budaya dan kebiasaan tentang cinta kasih. Kita mengenal cinta kasih bukan hanya dari Gereja Katolik. Gereja Katolik hanya menambah dan memperkuat. Kita mengenal cinta kasih bukan hanya dari Agama, tapi adat dan budaya kita sudah sejak dahulu menjelaskan kepada kita dan anak cucu kita untuk mengetahui apa itu cinta kasih.
Solidaritas antar sesama Wee Mimika, adat budaya kita ajari kita lima perinsip hidup orang Mimika yang salah satunya adalah Wee Iwoto. Wee Iwoto adalah sayang sesama tidak ada dalam ajaran Gereja Katolik, tapi merupakan ajaran leluhur yang lahir dari bumi atau tanah Amungme Bumi Kamoro sehingga saat agama masuk maka kita mendengar perintah dari Yesus bahwa hendaklah kamu saling mengasihi.
“Orang Kamoro bilang, hal ini kami sudah tahu. Kami sudah punyai barang itu dan terima kasih gereja memberitakan Injil, Injil ini memperkuat adat kami Wee Iwoto atau saling mengasihi,” tuturnya.
Menurut dia, sebagai pastor yang pertama ditahbiskan di Mimika sejak Gereja masuk, menjelaskan bahwa Wee Iwoto berarti menghendaki agar orang lain bahagia. Dengan demikian, jika suami mengasihi istri, berartia suami mau agar istrinya bahagia. Jika istri mengasihi suami, berarti istri menghendaki suaminya bahagia.
Hal itu menurut dia adalah secara afirmasi, afirmatif dan secara positif. Namun, bisa juga dikatakan secara negatif, dalam artian mengasihi dan tidak melakukan sesuatu yang membuat orang lainnya tidak bahagia.
” Wee Iwoto adalah cinta kasih yang diajarkan oleh Yesus. Wee Iwoto adalah yang diajarkan oleh leluhur kita dan nenek moyang kita di tanah Mimika. Ini merupakan sesuatu yang sangat luar biasa. Karena Wee Iwo to, orang Kamoro menghendaki orang lain baik Papua ataupun non Papua bisa bahagia di atas tanah ini. Karena Wee Iwoto, orang Kamoro tidak ingin melihat orang lain susah. Karena Wee Iwoto, orang Kamoro ingin berbagi miliknya dengan orang lain. Karena Wee Iwoto, orang Kamoro menyerahkan tanahnya kepada pemerintah saat Suharto datang ke tanah ini,” tuturnya.
Orang Kamoro sangat luar biasa karena menurut dia, banyak hal yang telah diberikan orang Kamoro, bukan karena lemah atau tidak kuat. Akan tetapi hal itu karena orang Kamoro memiliki falsafah hidup ‘Kasih Terhadap Sesama atau Wee Iwoto’.
Namun, sangat disayangkan setelah prinsip Wee Iwoto ini di salah artikan oleh sebagian orang dengan menganggap rendah orang Kamoro.
“Karena perintah injil dan budaya orang menterjemahkan Wee Iwoto dalam arti positif,” tuturnya.
Karena itu, terkait dengan pelaksanaan Musdat ke-V Lemasko ini, diharapkan wajib membahas sesuatu yang perlu mengajak orang lain bahagia. Orang Kamoro bahagia, orang suku kekerabatan dan orang non Papua ikut bahagia. Sebab, itulah cirri khas orang Kamoro.
Namun dalam mengungkapkan kebahagian kepada orang lain  yang ditandai dengan memberikan tanah kepada orang lain, jangan sampai melupakan anak dan cucu. Dalam artian, ciptakan aturan-aturan dan adat dan mendorong pemerintah untuk mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) yang melindungi tanah Kamoro untuk anak dan cucu.
Tugas kelompok adat menurut dia, adalah menjaga. Silahkan memberikan lahan kepada orang lain, tetapi tidak melupakan diri sendiri.
‘Cinta itu adalah menghendaki orang lain bahagia termasuk anak dan cucu kita harus bahagia. Jangan karena Wee Iwoto yang berlebihan, lalu suatu saat anak dan cucu kita hanya mengelus dada karena tanahnya sudah habis,” harapnya. (Acik)

Selengkapnya Musdat ke-V Lemasko, Masyarakat Kamoro Diajak Saling Mengasihi

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sponsor By :

Muhammad Ullil Fahri,S.Pd.M.TI

www.mfahri.web.id